29 Juli 2020 – Jakarta

 

PT United Tractors Tbk (”Perseroan”) pada hari ini mengumumkan Laporan Keuangan Konsolidasian untuk semester pertama tahun 2020. Pandemi COVID-19 dan penurunan harga batu bara berdampak pada pasar domestik dan berimbas pada semua segmen usaha Perseroan. Dalam laporan keuangan yang disampaikan, Perseroan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp33,2 triliun atau turun sebesar 23% dibandingkan dengan semester pertama tahun 2019 sebesar Rp43,3 triliun. Sejalan dengan penurunan pendapatan bersih, laba bersih Perseroan turun 28% menjadi Rp4,1 triliun dari sebelumnya sebesar Rp5,7 triliun.

 

Masing-masing segmen usaha, yaitu: Mesin Konstruksi, Kontraktor Penambangan, Pertambangan Batu Bara, Pertambangan Emas dan Industri Konstruksi secara berturut-turut memberikan kontribusi sebesar 22%, 46%, 18%, 12% dan 2% terhadap total pendapatan bersih konsolidasian.

 

Segmen Usaha Mesin Konstruksi

Segmen usaha Mesin Konstruksi mencatat penurunan penjualan alat berat Komatsu sebesar 56% menjadi 853 unit, dibandingkan dengan 1.917 unit pada semester pertama tahun 2019. Turunnya harga komoditas dan pembatasan sosial berskala besar berdampak pada penurunan aktivitas di semua sector pengguna alat berat yang menyebabkan berkurangnya permintaan alat berat. Pendapatan Perseroan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat juga turun sebesar 25% menjadi sebesar Rp3,3 triliun. Berdasarkan riset pasar internal, Komatsu tetap mampu mempertahankan posisinya sebagai market leader alat berat, dengan pangsa pasar domestik sebesar 33%. 

 

Penjualan UD Trucks mengalami penurunan dari 302 unit menjadi 94 unit, dan penjualan produk Scania turun dari 291 unit menjadi 100 unit. Secara total, pendapatan bersih dari segmen usaha Mesin Konstruksi turun 40% menjadi sebesar Rp7,3 triliun dibandingkan Rp12,1 triliun pada periode yang sama tahun 2019. 

 

Segmen Usaha Kontraktor Penambangan

Segmen usaha Kontraktor Penambangan dioperasikan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA). Sampai dengan bulan Juni 2020, Kontraktor Penambangan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp15,1 triliun atau turun 22% dari Rp19,3 triliun pada periode yang sama pada tahun 2019. Sementara itu, PAMA mencatat penurunan volume produksi batu bara sebesar 8% dari 60,8 juta ton menjadi 55,9 juta ton dan volume pekerjaan pemindahan tanah (overburden removal) turun 10% dari 469,2 juta bcm menjadi 420,3 juta bcm. 

 

Segmen Usaha Pertambangan Batu Bara   Segmen usaha Pertambangan Batu Bara dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung (TTA). Sampai dengan bulan Juni 2020 total penjualan batu bara mencapai 5,6 juta ton, termasuk di dalamnya 869 ribu ton batu bara kokas, atau meningkat 14% apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019 sebesar 4,9 juta ton. Namun demikian, pendapatan segmen usaha Pertambangan Batu Bara turun 11% menjadi Rp6,1 triliun dikarenakan penurunan ratarata harga jual batu bara.

 

Segmen Usaha Pertambangan Emas

Segmen usaha Pertambangan Emas dijalankan oleh PT Agincourt Resources (PTAR) yang mengoperasikan tambang emas Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Sampai dengan bulan Juni 2020, total penjualan setara emas dari Martabe adalah sebanyak 185,6 ribu ons dengan pendapatan bersih sebesar Rp4,0 triliun, meningkat 11% dari Rp3,6 triliun pada periode yang sama tahun 2019. Rata-rata harga jual terealisasi untuk emas sebesar USD1.498 per ons, dibandingkan USD1.315 per ons pada periode yang sama tahun lalu.

 

Segmen Usaha Industri Konstruksi

Segmen usaha Industri Konstruksi dijalankan oleh PT Acset Indonusa Tbk (ACSET). Sampai dengan bulan Juni 2020, Industri Konstruksi membukukan pendapatan bersih sebesar Rp746 miliar, turun dari sebelumnya sebesar Rp1,5 triliun pada periode yang sama tahun 2019. ACSET membukukan rugi bersih sebesar Rp252 miliar turun dibandingkan rugi bersih pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp404 miliar. Pandemi Covid 19 telah berdampak pada penundaan pekerjaan proyek yang sedang berlangsung maupun pembukuan kontrak baru sehingga berdampak terhadap kinerja ACSET. Namun demikian, ACSET membukukan rugi bersih lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu karena penurunan beban keuangan (finance cost) terutama dari proyek Contractor Pre Financing (CPF).

 

Segmen Usaha Energi

PT Bhumi Jati Power (BJP) yang 25% sahamnya dimiliki oleh anak perusahaan Perseroan saat ini sedang membangun pembangkit listrik tenaga uap berkapasitas 2×1.000 MW di Jepara, Jawa Tengah. Hingga semester pertama tahun 2020, progres pembangunan konstruksi proyek ini telah mencapai 94% dan dijadwalkan akan memulai operasi secara komersial pada tahun 2021. BJP merupakan perusahaan patungan bersama antara anak usaha Perseroan, Sumitomo Corporation dan Kansai Electric Power Co Inc.